Gambar Kesenian Kuda Lumping Di Dusun Dukuh
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dalam perkembangannya, kesenian Kuda Lumping juga hadir di Dusun Dukuh dan mulai berkembang kembali pada tahun 2019. Kuda Lumping adalah salah satu kesenian tradisional yang memiliki makna simbolis berupa semangat heroisme dan keberanian pasukan berkuda. Di Dusun Dukuh, Temanggung, kesenian ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga. Paguyuban Kuda Lumping di dusun ini didirikan melalui kesepakatan warga sebagai wujud kebersamaan. Tujuannya adalah menciptakan ruang interaksi sosial yang dapat memperkuat keakraban antar warga, terutama karena aktivitas sehari-hari seringkali membuat mereka jarang bertemu. Paguyuban ini sempat vakum namun aktif kembali pada tahun 2019, dengan dukungan penuh dari masyarakat setempat.
Tradisi Kuda Lumping di Dusun Dukuh terus mengalami perkembangan, terutama pada gerakan tarian dan iringan musiknya. Anak-anak muda menjadi penggerak utama dalam pembaruan tradisi ini. Mereka secara mandiri menentukan lagu dan gending yang akan dimainkan, sering kali mengadaptasi dari tren musik viral atau pengalaman pentas di daerah lain. Selain itu, ciri khas Kuda Lumping Temanggung, seperti penggunaan badong, wig, dan kostum tradisional, tetap dipertahankan sebagai identitas lokal. Keaktifan generasi muda dalam mengelola aspek seni ini menjadi salah satu faktor yang menjaga keberlanjutan paguyuban.
Keberadaan paguyuban ini juga memberikan dampak sosial yang besar bagi masyarakat Dusun Dukuh. Kegiatan rutin Kuda Lumping menciptakan ruang interaksi baru yang menghubungkan warga. Kesempatan tampil di luar daerah juga membawa manfaat berupa perluasan jaringan sosial, baik bagi individu maupun kelompok. Meskipun demikian, perjalanan paguyuban ini tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal pendanaan. Biaya operasional, seperti kostum, transportasi, dan alat musik, sebagian besar ditutupi melalui iuran warga dan bantuan aspirasi. Ketika tampil di daerah lain, uang yang diperoleh dari undangan seringkali hanya cukup untuk menutup biaya operasional, sehingga manfaat finansial belum terlalu dirasakan oleh anggota paguyuban.
Meski menghadapi berbagai hambatan, warga Dusun Dukuh tetap memiliki semangat yang besar untuk melestarikan Kuda Lumping. Anggota paguyuban terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan rentang usia yang bervariasi, mulai dari pelajar hingga yang sudah berkeluarga. Sebagian besar penari perempuan adalah remaja SMA ke bawah, sedangkan musisi dipilih melalui proses seleksi agar kualitas pertunjukan tetap terjaga. Semua warga yang memiliki minat terhadap seni ini dipersilakan bergabung, menjadikan paguyuban ini sebagai milik bersama, bukan sekadar sanggar seni eksklusif.
Harapan masyarakat Dusun Dukuh adalah agar Kuda Lumping dapat terus berkembang tanpa mengalami kevakuman lagi. Mereka berkeinginan agar tradisi ini menjadi warisan budaya yang terus disambung oleh generasi mendatang. Dengan dukungan penuh warga dan kreativitas yang terus berkembang, Kuda Lumping di Dusun Dukuh diharapkan mampu bertahan sebagai identitas budaya yang memperkuat rasa kebersamaan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Temanggung.
Sumber: Wawancara Bapak Naro Bendahara Kesenian Kuda Lumping Dukuh