Detail Berita

Gambar Kesenian Topeng Ireng Dusun Jurang

Sumber: Instagram Bharata Rimba

 

Topeng Ireng merupakan salah satu seni pertunjukan khas yang berakar dari tradisi masyarakat Magelang, khususnya Desa Tuksongo, Borobudur. Secara resmi, seni ini dikenalkan pada tahun 1952, meskipun jejaknya telah hadir sebelumnya sebagai media dakwah penyebaran agama Islam melalui lagu-lagu bernuansa Islami. Pada 18 Agustus 1991, Topeng Ireng mulai masuk ke wilayah Temanggung, tepatnya di Dusun Gondang Ngisor, Ngadirjo. Seni ini dibawa oleh seorang guru dari Magelang dan diperkenalkan kepada masyarakat setempat. Nama asli kesenian ini, "Toto Lempeng Iromo Kenceng," mencerminkan kekuatan dan keluwesan gerakan tarian yang ditampilkan.

 

Di Temanggung, Topeng Ireng awalnya dikenal dengan nama "Topeng Loreng." Pada masa pemerintahan Soeharto, perkembangan kesenian ini sempat mengalami pasang surut. Namun, pada tahun 1991, Topeng Ireng mulai berkembang pesat selama delapan tahun berikutnya, dengan dukungan dari komunitas seni setempat. Gerakan ini semakin menarik perhatian masyarakat melalui peran aktif karang taruna, yang melihat Topeng Ireng sebagai media untuk melestarikan budaya sekaligus membangun aktivitas kreatif bagi generasi muda. Awalnya, kostum yang digunakan sederhana, terbuat dari janur. Namun, seiring waktu, kostum berkembang menjadi lebih kompleks dengan tambahan aksesori seperti badong, rapek, kroncong, dan sepatu. Pada tahun 1988, kostum modern mulai digunakan, berkat bantuan pemerintah dan aspirasi dari DPR kabupaten, serta dukungan karang taruna.

 

Masuknya Topeng Ireng ke Dusun Jurang dipengaruhi oleh Dusun Gondang Ngisor. Di Jurang, seni ini diperkenalkan oleh Mas Sentir, seorang penggerak yang memainkan peran penting dalam mempopulerkan dan mempertahankan eksistensinya. Pada tahun 2016, karang taruna Dusun Jurang mulai aktif mengadakan pertunjukan Topeng Ireng untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Pertunjukan ini berhasil menyatukan generasi muda sekaligus mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar. Pelatihan dilakukan secara mandiri tanpa pelatih khusus, dengan anggota saling belajar satu sama lain menggunakan referensi dari kaset dan video YouTube. Dengan jumlah anggota sekitar 25 orang yang terdiri dari pria dan wanita, Topeng Ireng di Dusun Jurang mulai menampilkan karakteristik uniknya. Kegiatan ini juga menjadi daya tarik positif yang memperkuat interaksi sosial di masyarakat.

 

Dalam hal musik, Topeng Ireng menggunakan alat utama seperti kendang, bendih, dan jedor. Seiring waktu, variasi musik mulai dikolaborasikan dengan angklung, campur sari, dan dangdut untuk membuat pertunjukan lebih menarik. Alur cerita dalam pementasan biasanya menyampaikan pesan moral yang mengajak penonton untuk berbuat kebaikan, selaras dengan tujuan awal seni ini sebagai media dakwah. Gerakan tariannya diadaptasi dari kesenian Kubro Siswo dan pencak silat, menghasilkan kombinasi gerakan yang energik dan dinamis dengan durasi pementasan sekitar 30 menit. Di beberapa daerah di Temanggung, seperti Dusun Parakan, tarian ini bahkan digunakan untuk menceritakan peristiwa sejarah seperti pemberontakan Ambarawa.

 

Keberadaan Topeng Ireng di Dusun Jurang mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Aktivitas ini membantu karang taruna menjadi lebih terorganisir dengan jadwal kegiatan rutin. Namun, perjalanan seni ini tidak selalu mulus. Tantangan seperti semangat anggota yang menurun, kesibukan individu, dan kekurangan personel menjadi kendala utama. Mas Sentir juga sempat menghadapi kritik yang menganggapnya lebih mementingkan komunitas daripada seni itu sendiri. Meskipun demikian, ia tetap konsisten dengan niat awal untuk mendukung perkembangan seni dan budaya di Dusun Jurang.

 

Harapan besar terhadap Topeng Ireng adalah munculnya generasi penerus yang mampu menjaga dan mengembangkan seni ini. Mas Sentir berharap semangat karang taruna untuk bergabung terus meningkat. Seni ini tidak hanya melestarikan kebudayaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Topeng Ireng telah menjadi identitas seni Dusun Jurang yang mampu bertahan, meskipun kesenian lain seperti ketoprak, wayang kulit, dan kuda lumping mulai hilang. Melalui dedikasi dan inovasi komunitas, Topeng Ireng diharapkan tetap menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi generasi mendatang.

 

Sumber: Wawancara Mas Sentir (Penggerak Topeng Ireng Di Dusun Jurang)